Manajemen Sosial Media dan Pemasaran Digital Desa Wisata
Tidaklah mudah untuk semua sektor bangkit di tengah gempuran dampak Pandemi COVID-19 ini. Bali terkhususnya Kabupaten Badung yang mengalami dampak yang cukup keras di sektor pariwisata akibat pembatasan kegiatan selama pandemi. Namun, pada masa pandemi, sektor digital atau teknologi mengalami peningkatan baik secara perkembangan maupun penggunaan karena dapat menjadi solusi di tengah keterbatasan saat masa pandemi.
Melalui Digital Marketing atau pemasaran secara digital, kita bisa mempromosikan bisnis kita tanpa harus bertemu langsung dengan konsumen (Lestari, P., & Saifuddin, M. 2020). Pada sektor pariwisata dapat kita terapkan hal yang sama untuk membangkitkan segera perkembangan sektor ekonomi pada pariwisata.
Media sosial tidak hanya menjadi sarana untuk berkomunikasi, namun juga berfungsi sebagai sarana yang mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat, salah satunya sebagai penggerak perekonomian (Pratiwi, N. I., & Maharani, J. S. 2022). Media Sosial Instagram dan Facebook memiliki persentase yang paling banyak digunakan masing-masing sebesar 84,8% dan 81,3%. Kedua sosial media ini menjadi wadah pemasaran secara digital yang potensial. Desa Wisata dapat menjalankan banyak peran disini dalam hal promosi yaitu, Branding, Marketing, dan Advertising atau periklanan.
Langkah awal dapat dilakukan yaitu riset. Langkah selanjutnya yaitu dengan menyusun ide konten sebagai strategi kampanye dengan menentukan target market terutamanya wisatawan yang memiliki minat dan ketertarikan ke Daya Tarik Wisata dan Desa Wisata. Promosi di Media Sosial tidak hanya sebatas membuat konten yang menarik. Namun juga menjaga bagaimana interaksi antara wisatawan dengan desa wisata atau dengan daya tarik wisata tetap berjalan. beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:
- Riset. Selain riset mengenai audience yang cocok dengan sosial media kita. Perlu jugadiperhatikan Caption ataupun kata kata marketing yang kita gunakan untuk menggaetaudience. Hastag juga membantu untuk lebih menyebarluaskan postingan itu untuk dilihat.
- Monitoring: bertujuan untuk memantau konten yang telah dibuat sudah tepat sasarandan tidak menemui masalah.
- Merespon. Interaksi dengan pengguna instagram diperlukan untuk meningkatkan performa sosial media kita serta memberi impresi yang baik kepada calon wisatawan ataupun wisatawan yang akan berkunjung kembali. Seperti membalas komentar dan pesan langsung serta melakukan repost kepada wisatawan yang mengabadikan momennya di Daya Tarik Wisata kita dapat dilakukan sebagai bentuk apresiasi
- Campaign atau Kampanye. Untuk menarik wisatawan kita dapat melakukan kampanye di media sosial seperti melakukan kontes atau perlombaan, kegiatan kerjasama dengan lembaga lain, ataupun peluncuran produk kreatif yang melibatkan Daya Tarik Wisata di sekitar.
- Integrasi. Dengan adanya integrasi, penyaluran informasi lebih dimudahkan denganmekanisme satu jalur, sebagai contoh, integrasi instagram dengan situs reservasi akan memudahkan dan memberi pengalaman yang baik kepada wisatawan yang memerlukan informasi
- Call To Action (CTA). Langkah ini digambarkan sebagai stimulus pengunjung mediasosial kita untuk melakukan tindakan tertentu yang menguntungkan pihak Daya TarikWisata ataupun Desa Wisata. Sebagai Contoh, dengan CTA kita dapat mengarahkan pengunjung untuk menghubungi nomor yang tertera pada bio instagram kita. Atau dapat mengarahkan untuk menonton youtube untuk melihat lebih jauh tentang Daya Tarik WisataTersebut.
Dari sekian hal yang telah dilakukan diharapkan dapat meningkatkan awareness atau kepekaan akan Daya Tarik Wisata yang ada, Branding, serta selling yang menunjukkan trenyang positif. Sehingga pemasaran dapat lebih fleksibel dilakukan di platform digital.
Kreator: Anak Agung Gede Ari Laksana