Sinergitas Aktor Pentahelix dalam Pemulihan Sektor Pariwisata Berbasis Desa Wisata Pasca Pandemi Covid-19 di Desa Carangsari
Beragam warna mengenai potensi desa yang ada di berbagai wilayah Indonesia bahkan sumber daya alam yang melimpah. Hal inilah yang merupakan tujuan pemerintah untuk menentukan destinasi wisata yang popular dan berkembang lebih luas, dimana orientasinya adalah pengenalan terhadap alam atau budaya lokal sebagai pengembangan desa wisata. Berdasarkan ketentuan Organisasi Pariwisata Dunia (WTO), diarahkan pada pariwisata budaya yang memberikan ruang luas untuk partisipasi masyarakat dalam mengembangkan potensi yang ada dalam upaya meningkatan kesejahteraan masyarakat (Risman, Wibhawa, and Fedryasyah, 2016).
Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang berpengaruh pada pendapatan daerah. Kabupaten Badung memiliki banyak tempat wisata karena adanya sumber daya potensial yang melimpah. Pemanfaatan dan pengembangan sumber daya yang ada dapat mengundang banyak wisatawan untuk berkunjung. Namun, sektor pariwisata juga menjadi salah satu sektor yang sangat rentan terhadap isu keamanan dan keselamatan, termasuk kerentanan terhadap isu bencana alam. Kerentanan ini dibagi menjadi 2 (dua) kategori, yaitu kerentanan fisik dan non fisik. Kerentanan fisik pada industri pariwisata mengarah pada kerentanan infrastruktur pariwisata, seperti hotel, jalan raya sebagai aksesibilitas hingga infrastruktur penunjang seperti sistem komunikasi. Sedangkan kerentanan non fisik/tak berwujud berupa kerentanan terhadap citra dan reputasi wisata, dimana masyarakat akan mudah beralih untuk melakukan aktivitas wisata di lokasi yang dianggap lebih aman dan lebih nyaman.
Seperti yang terjadi di tahun 2020, sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang terkena dampak paling besar dari adanya pandemi covid-19 ditandai dengan adanya penurunan kunjungan wisatawan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Badung, wisatawan mancanegara (wisman) yang datang langsung ke Provinsi Bali pada bulan Februari 2020 tercatat sebanyak 363.937 kunjungan dan jumlah wisman ke Provinsi Bali pada bulan Februari 2020 turun sedalam 31,19 persen dibandingkan dengan catatan bulan Januari 2019. Bila dibandingkan dengan bulan Februari 2019, jumlah wisman ke Bali tercatat turun sedalam 16,81 persen. Dampak yang diberikan dengan adanya penurunan kunjungan wisatawan sejak adanya pandemi covid-19 terhadap sektor pariwisata menyebabkan banyak masyarakat kehilangan pekerjaan atau mata pencahariannya.
Sinergitas Pentahelix di Sektor Pariwisata:
Faktor-faktor pendukung bagi pengembangan desa wisata, antara lain: (1) Memiliki potensi produk dan daya tarik, (2) memiliki dukungan sumber daya manusia (SDM), (3) motivasi kuat dari masyarakat, (4) memiliki dukungan sarana dan prasarana yang memadai, (5) mempunyai fasilitas pendukung kegiatan wisata, (6) mempunyai kelembagaan yang mengatur kegiatan wisata, dan (7) ketersediaan lahan/area yang dimungkinkan untuk dikembangkan menjadi tujuan wisata. Dari penelitian yang dilakukan oleh Chiu, Zeng, dan Cheng (2016); Rajaratman dan Nair (2015); Chang dan Tsai (2016) dapat disimpulkan, bahwa hadirnya desa wisata dapat mempercepat pembangunan daerah dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Dalam hal ini juga dapat disimpulkan bahwa adanya sinergitas dalam pengelolaan pariwisata sangat penting dilakukan guna meningkatkan keberhasilan perekonomian daerah.
Sejarah perkembangan konsep sinergitas dalam pembangunan pariwisata dimulai dengan gagasan triple-helix yang diadopsi dari teori Etzkowitz & Leydesdorff pada tahun 2000. Konsep triple helix ini menitikberatkan adanya relasi antara universitas, industri dan pemerintah. Pada tahun 2014, Lindberg mengembangkan konsep baru yang disebut quadruple helix dengan menambahkan elemen masyarakat lokal sebagai pelengkap konsep triple-helix yang sudah duluan berkembang. Sedangkan konsep pentahelix diusulkan oleh Riyanto pada tahun 2018 dengan mengikutsertakan media yang saat ini peranannya sangat signifikan dalam mengembangkan modal sosial pembangunan.
Peran Aktor Pentahelix dalam Pemulihan Pariwisata di Desa Wisata Carangsari:
Dengan adanya Covid-19 yang berlangsung, citra Bali dan Desa Carangsari menjadi destinasi wisata yang tidak aman dikunjungi. Oleh sebab itu, diperlukan rehabilitasi citra Desa Carangsari dengan usulan program yang setidaknya memiliki beberapa aspek, yakni something to see, something to do, something to buy dan something to learn. Berdasarkan wawancara penulis dengan salah satu tokoh wisata di Carangsari, yakni Bapak Banyuning (yang merupakan Duta Wisata Desa Carangsari), pemulihan wisata dapat dilakukan dengan penyelenggaraan beragam creative event yang dipublikasikan seluas-luasnya. Misalnya dengan pelaksanaan Carangsari Festival secara konsisten setiap tahunnya. Selain itu, perlu dipertimbangkan untuk membuat rangkaian creative event lainnya untuk menarik atensi banyak masyarakat, misalnya dilaksanakan expo sumber daya alam Desa Carangsari.
“Disisi lain, dapat dilakukan kerjasama dengan travel vlogger, travel blogger, dan selebgram untuk promosi. Dengan media ini target market publikasi adalah kaum millennial, trilenial, dan tidak menutup kemungkinan generasi di usia 40- 60an tahun. Penggunaan jasa travel blogger, vlogger dan selebgram cukup efektif untuk menciptakan brand awareness Kabupaten Badung. Taktik yang sering disebut sebagai influencer marketing ini sangat efektif karena menurut data dari StarNgage (2017) bahwa 50% pengguna internet di Indonesia merupakan pengguna instagram.” – Ungkap Banyuning
Selanjutnya, Banyuning menambahkan bahwa keterlibatan pentahelix stakeholder dalam program pemulihan pariwisata dapat dilakukan oleh masing-masing individu. Misalnya, pemerintah pusat (Kementerian Pariwisata) dapat mengagendakan festival atau event yang akan dilaksanakan di Carangsari dalam calendar of tourism event Indonesia. Kemudian, pemerintah daerah sebagai penyelenggara utama kegiatan. Untuk akademisi, mereka dapat membuat kajian menyeluruh mengenai persepsi masyarakat tentang event yang dilakukan, kajian evaluasi mengenai efektivitas dan efisiensi kegiatan, hingga mengukur dampak kegiatan pada sektor pariwisata.
Sisi lain, industri berperan untuk menciptakan peluang usaha pariwisata baru dari kegiatan event tersebut dan menyemarakkan event dengan penawaran produ-produk wisata yang telah dimiliki. Selanjutnya, komunitas dan masyarakat menjadi penggerak kegiatan yang akan melaksanakan operasional event ataupun menjadi penikmat event yang berlangsung, dan media berperan penting karena menjadi motor utama publikasi untuk menciptakan image baru Carangsari sebagai destinasi wisata yang aman dikunjungi. Termasuk dalam media ini adalah selebgram yang akan diajak kerjasama untuk program nomor 2 (dua). Selebgram, travel vlogger dan travel blogger yang dipilih tidak bisa sembarangan karena harus menyesuaikan segmen dan follower yang dimiliki.
Berdasarkan hal tersebut, sudah sepatutnya seluruh lapisan masyarakat saling membahu satu sama lain bekerjasama dalam pemulihan pariwisata di Bali, khususnya di Kabupaten Badung yang dapat dilakukan dengan sinergitas pentahelix pada desa wisata. Untuk pemerintah, seyogyanya memfasilitasi masing-masing desa wisata dalam menjalankan dan mengembangkan potensi desa yang mereka miliki. Kemudian untuk masyarakat setempat, seyogyanya tetap memiliki semangat kreativitas tinggi dalam mempromosikan potensi daerah dan menjaga agar tetap aman dan bersih.
Menyikapi kalimat “Recover Together, Recover Stronger”, yakni kalimat yang sering kita dengar belakangan ini yang merupakan slogan Presidensi G20 Indonesia 2022. Melalui slogan Recover Together, Recover Stronger, Indonesia mendorong semua negara untuk bekerja sama mencapai pemulihan dunia yang lebih kuat dan berkelanjutan di tengah perekonomian dunia yang masih terkena dampak pandemi Covid-19. Kita sebagai masyarakat Badung seharusnya bisa menjadikan sepenggal kalimat tersebut untuk motivasi dalam bekerja sama mencapai pemulihan pariwisata yang terdampak di Kabupaten Badung, baik itu Desa Wisata, Desa Kreatif, atau Daya Tarik Wisata.
Penulis: I Made Dwi Pramana