Peluang dan Tantangan Membuka Kembali Pariwisata Kabupaten Badung
Pandemi Covid-19 telah menggoyahkan sendi-sendi perekonomian negara-negara di dunia. Prof. Ojat Darojat M.Bus, Ph.D. (Rektor Universitas Terbuka) pada pembukaan Knowledge Sharing Forum (KSF) menyampaikan bahwa di Indonesia sendiri penyebaran virus ini telah berdampak pada berbagai sektor, salah satunya sektor ekonomi, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif merupakan sektor penunjang ekonomi yang dapat dikatakan paling terdampak. Pada sektor pariwisata adanya kebijakan lockdown dan social distancing mengakibatkan terputusnya mata rantai industri pariwisata, antara lain: restoran, perhotelan, bisnis transportasi, dan lainnya. Di sektor ekonomi kreatif berdampak antara lain : industri hiburan, musik, fashion, usaha UMKM, dan industri lainnya.
Begitu juga di Bali yang aktivitas ekonominya ditunjang oleh sektor pariwisata dan ekonomi kreatif merasakan keterpurukan akibat dampak pandemi Covid-19. Saat pandemi berlangsung tempat pariwisata dan akses masuk Bali ditutup. Bali adalah salah satu provinsi sekaligus pulau di Indonesia yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan baik dalam maupun luar negeri untuk menghabiskan waktu liburan dan bersantai. Namun karena pandemi, Bali menjadi sepi pengunjung. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, ekonomi provinsi Bali mengalami kontraksi hingga minus 9,85 persen pada tahun 2020. Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) turun hingga 83,26% dari 6,2 juta pada 2019 menjadi hanya 1 juta pada 2020. Menurunnya kunjungan wisatawan berpengaruh pada tingkat pengangguran yang meroket. Menurut data BPS, jumlah pengangguran di Bali pada tahun 2020 mencapai 144.500 jiwa. Jumlah ini melesat 268% dibandingkan tahun 2019 sebesar 39.288 jiwa. Ledakan pengangguran terbesar terjadi di Kabupaten Badung.
Bank Indonesia (BI) menyebutkan bahwa pariwisata di Provinsi Bali pada tahun ini diproyeksikan membaik dibandingkan tahun 2021, namun masih lebih rendah dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menyatakan Bali akan dibuka untuk kunjungan turis asing per 4 Februari 2022. Jika sebelumnya dibatasi hanya 19 negara, pembukaan kembali kali ini terbuka untuk semua wisatawan tetapi hanya yang menggunakan e-visa.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno dalam sambutannya pada Seminar Pariwisata Nasional mengatakan bahwa 2022 menjadi tahun pemulihan pasar wisatawan. Menurutnya, untuk kunjungan wisman tahun ini akan ditunjang oleh beberapa event internasional seperti MotoGP di Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Maret 2022. Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno mengatakan, sejumlah tantangan yang masih dihadapi pariwisata domestik. Antara lain tantangan konektivitas, kapasitas penerbangan, dan persoalan harga. Lebih lanjut, Menparekraf Sandiaga Uno menyatakan bahwa saat ini ada pergeseran paradigma ke arah pembangunan pariwisata yang berkualitas dengan berbasis sustainable.
Merespon tantangan dan pergeseran paradigma tersebut Pemerintah Kabupaten Badung mengeluarkan panduan menuju budaya hidup baru khususnya di sektor pariwisata. Panduan tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Bupati Badung Nomor 259 Tahun 2020 tentang Panduan Stakeholder Pariwisata di Kabupaten Badung Menuju “New Normal Tourism”. Bupati Giri Prasta menjelaskan, ada beberapa hal yang menjadi fokus utama dalam menyambut budaya hidup baru. Hal pertama adalah menciptakan dan memastikan desa wisata, desa kreatif, dan DTW yang ada di kawasan Badung memenuhi standar clean, Health, dan safe yang diwujudkan salah satunya dengan pemeriksaan wisatawan dengan protokol kesehatan sebelum memasuki daerah tujuan wisata. Selanjutnya, melakukan pelatihan bagi pelaku wisata, mengedukasi tata cara baru untuk pemandu wisata sampai mengenai area evakuasi untuk wisatawan yang sedang mengalami masalah kesehatan.
Prof. Dr. Ginta Ginting, M.B.A (Universitas Terbuka) pada acara Knowledge Sharing Forum (KSF) mengatakan harus melihat sisi positif pandemi Covid-19 untuk membangun pariwisata dan ekonomi kreatif yang lebih resilien, adaptif, dan berdaya saing. Pelaku pariwisata sudah “naik kelas” artinya mereka memiliki kapabilitas yang luar biasa, yaitu kepedulian mereka terhadap kesehatan, keamanan, dan keselamatan (K3). Pandemi ini juga menimbulkan peluang bagi pelaku usaha parekraf antara lain, perubahan model bisnis dari traditional tourism management menjadi digital tourism management, lalu sektor ekonomi kreatif berbasis digital juga dapat meningkatkan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), selanjutnya orientasi pasar berubah yang awalnya wisatawan mancanegara menjadi wisatawan nusantara.
Di masa pemulihan pariwisata Badung, pemerintah bekerja sama dengan pelaku pariwisata dan masyarakat melakukan promosi untuk membangkitkan lagi pariwisata di Kabupaten Badung. Sejumlah event berskala nasional hingga internasional sudah mulai digelar dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Sejumlah kawasan di Kabupaten Badung saat ini sudah mulai merasakan adanya kebangkitan ekonomi dari meningkatkan jumlah wisatawan asing ke Bali yakni Kuta Utara, Kuta, dan Kuta Selatan. Belum lama ini, Sekretaris Daerah Kabupaten Badung I Wayan Adi Arnawa menyerahkan Piagam Penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021 kepada 9 Desa Wisata dan 2 daya tarik wisata diantaranya Desa Wisata Bongkasa Pertiwi, Desa Wisata Pelaga, Desa Wisata Petang, Desa Wisata Pangsan, Desa Wisata Sangeh, Desa Wisata Kapal, Desa Wisata Baha, Daya Tarik Wisata Pantai Pandawa Kutuh, Desa Wisata Munggu, Pantai Melasti Ungasan, dan Desa Wisata Carangsari. Oleh karna itu, ini adalah momentum yang tepat untuk mengoptimalkan promosi pada desa wisata, desa kreatif, dan DTW yang ada di kawasan Badung melalui sosial media yang dapat diakses langsung oleh wisatawan maupun masyarakat dalam atau luar negeri sehingga tertarik untuk berkunjung ke Kabupaten Badung.
Penulis: Ni Nyoman Ayu Natasya Amanda