Pemulihan Pariwisata melalui Sinergitas Komponen Pariwisata di Kabupaten Badung

Oleh Admin JBB
6 Mei 2023

Pariwisata Indonesia merupakan salah satu sektor prioritas pemerintah karena dinilai mampu menjadi lokomotif pergerakan ekonomi bangsa. Sektor pariwisata bahkan menjadi penyumbang devisa negara terbesar urutan ketiga setelah ekspor minyak kelapa sawit dan batu bara. Melalui berbagai kebijakan yang dilakukan pemerintah, pengelolaan sektor pariwisata pun terus dikembangkan untuk menjadikan pariwisata Indonesia semakin maju dan dikenal di mata dunia. Pada tahun 2018 sektor pariwisata Indonesia berhasil tercatat sebagai sektor dengan pertumbuhan tertinggi yaitu ke-9 di dunia, ke-3 di Asia, dan nomor 1 di Asia Tenggara menurut The World Travel & Tourism Council (WTTC). Namun memasuki penghujung tahun 2019, dunia diguncang dengan merebaknya virus baru yaitu SARS-CoV-2 yang menyebar dari China ke berbagai negara di dunia. Sejak merebaknya Covid-19 yang kini menjadi pandemi, berdampak signifikan pada sektor ekonomi negara-negara di dunia (Elistia Elistia, 2020). Industri pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia menjadi salah satu korban dari hantaman pandemi Covid-19. Bukan main, sejak Februari 2020 jumlah wisman yang masuk ke Indonesia menurun sangat drastis dan menurut data Buku Tren Pariwisata 2021 terbitan Kemenparekraf, puncak penurunan wisman terjadi pada April 2020 yang hanya sejumlah 158.000 wisman.

 

Pandemi Covid-19 tentunya juga berdampak besar pada pendapatan negara di sektor pariwisata. Akibat pembatasan sosial berskala besar dan penutupan akses keluar masuk Indonesia, menyebabkan penurunan pendapatan negara dari sektor pariwisata sebesar Rp 20,7 miliar (Kemenparekraf/Baparekraf RI, 2021). Bagi Bali sendiri pandemi Covid-19 berdampak luar biasa, bahkan di luar nalar jika dibandingkan dengan beberapa guncangan yang pernah dialami Bali, seperti bom Bali ataupun erupsi Gunung Agung. Hal ini menyebabkan penurunan kunjungan wisman ke Bali pada tahun 2021 yang tercatat hampir 100 persen. Meski dilanda keterpurukan, Bali selalu menempati hati setiap wisatawan. Sehingga pada tahun 2021 Bali terpilih menjadi destinasi terpopuler di dunia mengalahkan destinasi seperti Dubai, Roma, Paris, dan London (Balipost, 2022). Namun kita belum boleh berbangga diri sebab masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk membenahi pariwisata dan ekonomi Bali. Berbicara mengenai pariwisata dan ekonomi Bali, Kabupaten Badung merupakan salah satu kabupaten di Bali yang disebut sebagai jiwa pariwisata dan gerbang wisman ke Bali paling terdampak pandemi Covid-19. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Kabupaten Badung yang diukur dengan produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga konstan (ADHK) turun sebesar 16,52% yakni sebesar Rp 6,17 trilliun dari tahun 2019 menuju tahun 2020 (Viva Budi Kusnandar, 2021). Ditengah kemunduran dan lesunya perekonomian nasional pemerintah mengupayakan berbagai cara agar dapat bertahan melalui pendemi Covid-19. Dewasa ini, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sedang mendorong pengembangan desa wisata dan desa kreatif yang diharapkan mampu membuka lapangan kerja yang luas baik di sektor pariwisata maupun ekonomi kreatif (Liputan6.com, 2019).

 

Pemerintah mengembangkan desa wisata dan desa kreatif dengan tujuan untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi, peningkatan kesejahteraan masyarakat, mengatasi pengangguran, menghapuskan kemiskinan, pelestarian alam, lingkungan, dan sumber daya, serta memajukan kebudayaan. Pengembangan desa wisata juga merupakan bentuk percepatan pembangunan desa secara terpadu untuk mendorong transformasi sosial, budaya dan ekonomi desa. Oleh karena itu, setiap desa dan daerah perlu memperhatikan potensi yang dimiliki untuk diangkat dan dikembangkan agar dapat memberikan manfaat nilai tambah dan menghasilkan produktivitas yang tinggi guna peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. Desa wisata dan desa kreatif juga diharapkan dapat mengurangi urbanisasi masyarakat pedesaan ke kota karena banyak kegiatan ekonomi yang dapat dilakukan di desa (Liputan6.com, 2019). Demikian pentingnya pengaruh desa wisata, desa kreatif, dan daya tarik wisata bagi pembangunan ekonomi, oleh karena itu peran masyarakat, stakeholders pariwisata, dan pemerintah sangat diperlukan dalam mengelola komponen pariwisata sehingga program yang dijalankan dapat tepat guna, tapat waktu, dan tepat sasaran. Salah satu kontribusi nyata pemerintah guna mendukung pengembangan desa wisata dan desa kreatif adalah dengan penyelenggaraan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) untuk mendukung program prioritas pengembangan desa wisata. Ajang ADWI adalah kompetisi desa wisata yang diselenggarakan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Dengan mengusung tema Indonesia Bangkit, ajang ini diharapkan dapat mendorong para pelaku sektor pariwisata di desa untuk berkembang dalam mendukung perekonomian bangsa pasca pandemi Covid-19.

 

Ajang ADWI diharapkan dapat menjadi wahana promosi bagi desa wisata di Indonesia kepada wisatawan domestik maupun mancanegara, serta mampu memotivasi pemerintah desa maupun pemerintah daerah se-Indonesia untuk dapat mengembangkan desa wisata baru sebagai pengungkit perekonomian desa dan daerah, yang akhirnya akan mendorong pertumbuhan perekonomian nasional (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, 2021). ADWI 2021 diikuti oleh 1.831 desa se-Indonesia, dengan empat desa wisata di Bali terpilih dalam 100 besar. Empat desa wisata asal Bali tersebut adalah Desa Wisata Carangsari di Kabupaten Badung, Desa Wisata Ekasari di Kabupaten Jembrana, Desa Wisata Tenganan Pagringsingan di Kabupaten Karangasem, dan Desa Wisata Jatiluwih di Kabupaten Tabanan (Sui Suadnyana, 2021). Bahkan salah satu desa di Badung yaitu Desa Wisata Carangsari berhasil meraih juara pertama kategori konten kreatif. Hal ini membuktikan bahwa setiap desa maupun daerah di Badung memiliki potensi wisatanya masing-masing, potensi tersebut perlu dikembangkan dalam rangka membangun sinergitas antar komponen pariwisata sehingga dapat memulihkan kondisi perekonomian Badung. Dengan peningkatan dan juga sinergitas dari desa wisata, desa kreatif, maupun daya tarik wisata di Kabupaten Badung, diharapkan nantinya akan membawa angin sejuk bagi penggiat sektor pariwisata dan sektor pariwisata Badung itu sendiri, karena seperti yang kita ketahui pariwisata masih menjadi lokomotif penggerak ekonomi bagi Badung.

 

Oleh: I Made Mulya Astawa

Kategori: Pariwisata Bali