Pengoptimalan Potensi Wisata Pasar Malam Ayunan di Desa Wisata Munggu untuk Membantu Pemulihan Pariwisata di Kabupaten Badung

Oleh Admin JBB
4 Februari 2023
Pengoptimalan Potensi Wisata Pasar Malam Ayunan di Desa Wisata Munggu untuk Membantu Pemulihan Pariwisata di Kabupaten Badung

Pariwisata adalah salah satu sektor yang paling terdampak dengan adanya pandemi COVID-19. Tak dapat dipungkiri, Bali sebagai salah satu provinsi yang sangat bertumpu pada sektor pariwisata pun nyaris lumpuh. Hampir setiap kabupaten/kota di Bali mengandalkan sektor pariwisata sebagai sektor utama penggerak ekonomi mereka, tak terkecuali bagi Kabupaten Badung. Kabupaten Badung menjadi salah satu kabupaten di Bali yang memiliki potensi wisata yang sangat besar. Sebuah keberuntungan karena bandara Internasional Ngurah Rai dibangun di wilayah kabupaten badung. Hal ini sedikit tidaknya juga menjadi faktor pendukung mengapa perkembangan pariwisata di Kabupaten Badung sangat pesat. Namun, faktor pendukung lainnya yang menyebabkan pariwisata di Kabupaten badung begitu unggul karena pilihan berwisatanya sangat variatif. Mulai dari Badung Utara, Badung Tengah, hingga Badung Selatan, setiap daerahnya memiliki potensi wisata yang unik dan khas, dan menjadikan Kabupaten Badung sebagai “one stop destination” yang dapat dipilih oleh para wisatawan.

Namun, semenjak pandemi COVID-19 merebak, perekonomian Badung terasa lumpuh. Tak ada pihak yang pantas disalahkan atas hal ini, karena bagaimana pandemi COVID-19 merusak hampir semua sektor merupakan tanggung jawab kita bersama. Keinginan untuk bangkit adalah satu-satunya hal yang harus ditanamkan untuk bersama-sama membantu pemulihan pariwisata dan perekonomian di Kabupaten Badung.

Mengenai pemulihan sektor pariwisata di Kabupaten Badung saat ini, penulis merasa bahwa strategi terbaik yang dapat digunakan adalah dengan memfokuskan pembangunan pada upaya pengembangan dan pengelolaan, bukan lagi pada penciptaan. Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa Kabupaten Badung sendiri, dalam upaya pembangunan pariwisata, telah mengembangkan sebuah konsep desa wisata dan desa kreatif. Sebelum melangkah terlalu jauh, penting adanya penyatuan persepsi agar pembahasan kedepannya menjadi lebih terarah.

Menurut laman web KEMENPAREKRAF RI, Desa Wisata dalam konteks wisata pedesaan adalah aset kepariwisataan yang berbasis pada potensi pedesaan dengan segala keunikan dan daya tariknya yang dapat diberdayakan dan dikembangkan sebagai produk wisata untuk menarik kunjungan wisatawan ke lokasi desa tersebut. Sedangkan, Desa kreatif adalah sebuah kawasan yang terletak di wilayah administratif desa/kelurahan yang masyarakatnya telah mengembangkan produk unggulan di satu atau lebih dari 17 subsektor ekonomi kreatif yang memberikan nilai tambah dan manfaat bagi pertumbuhan ekonomi desa.

Di Kabupaten Badung sendiri, terdapat 17 desa wisata, 2 desa kreatif, dan 39 daya tarik wisata. Berdasarkan data tersebut, satu kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa Kabupaten Badung, secara kuantitas, telah memiliki cukup potensi wisata yang dapat dikembangkan. Seperti yang telah penulis paparkan sebelumnya, bahwa pembangunan dan pemulihan pariwisata di Kabupaten Badung seharusnya lebih difokuskan pada pengembangan dan pengelolaan. Masing-masing desa wisata, desa kreatif, dan daya tarik wisata tersebut agar dapat dioptimalkan dalam pemanfaatan potensi wisatanya.


Salah satu bukti konkrit yang akan penulis bahas adalah tentang adanya Pasar Malam Ayunan yang terdapat di Desa Wisata Munggu. Pasar Malam Ayunan adalah sebuah pasar malam yang rutin digelar saat Hari Raya Galungan dan Kuningan di Desa Munggu. Atraksi utamanya adalah adanya permainan ayunan kuno yang mirip dengan ayunan yang ada di Pura Taman Ayun Mengwi. Konon, ayunan ini adalah peninggalan Kerajaan Mengwi yang sejak dahulu telah digunakan sebagai sarana hiburan oleh warga Kerajaan Mengwi. Setiap diadakan, pasar malam ini selalu sukses mendatangkan begitu banyak pengunjung setiap harinya. Sebelum pandemi covid-19, pengunjung yang datang ke pasar malam ini bisa mencapai ribuan orang dalam 1 hari. Perputaran uangnya sangat cepat. Meskipun para pengunjung didominasi oleh warga lokal dan warga dari desa sekitar Desa Munggu, namun pasar malam ini nyatanya sangat membantu dalam pergerakan perekonomian khususnya bagi warga Desa Munggu itu sendiri.

Sayangnya, para pedagang di pasar malam ini masih didominasi oleh pedagang dari luar Bali. Dari fenomena ini, penulis menemukan sebuah sudut pandang yang menarik. Dari adanya pasar malam ini, Pemerintah Kabupaten Badung selaku regulator di Kabupaten Badung, dapat turun tangan dalam upaya pengembangan dan pengelolaan pasar malam ini. Salah satu contoh yang dapat dilakukan adalah dengan memberdayakan para pedagang lokal, yang juga didorong untuk menjual produk-produk khas lokal. Dengan adanya pemberdayaan pedagang lokal ini, akan sangat berdampak pada penguatan eksistensi umkm lokal Bali, utamanya bagi warga asli Desa Wisata Munggu. Selain pengelolaan, penting pula untuk melakukan promosi guna memperluas jangkauan pasarnya. Karena potensi wisata apapun, tidak akan mampu berkembang jika tak mendapatkan promosi yang memadai.

Inilah konsep yang harus terus dikuatkan dan dikembangkan. Layaknya sebuah bangunan, adanya desa wisata dan desa kreatif bagaikan sebuah pondasi bangunan. Desa wisata dan desa kreatif adalah lini terkecil yang harus dikembangkan dan dikelola dalam upaya pemulihan pariwisata di kabupaten badung. Jika diungkapkan dalam kalimat yang lebih indah, pembangunan pariwisata di Kabupaten Badung agar dapat mengusung konsep “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”. Selain Desa Wisata Munggu, desa wisata atau desa kreatif lainnya yang ada di Kabupaten Badung juga harus dilakukan pengoptimalan potensi wisata. Harus dilakukan analisis terhadap setiap desa wisata dan desa kreatif, agar kita mengetahui apa sebenarnya yang menjadi produk unggulan utama di desa tersebut, yang selanjutnya secara konsisten harus dikelola agar tercipta kondisi pariwisata yang kondusif dan stabil.

Selain pengembangan pada tempat wisatanya, hal lain yang harus diperhatikan dalam upaya pemulihan pariwisata di Kabupaten Badung adalah adanya perubahan target wisatawan. Jika sebelumnya, masyarakat terbiasa untuk memprioritaskan wisatawan mancanegara, semenjak pandemi covid-19 ini masyarakat seharusnya mulai menyadari bahwa wisatawan lokal juga memiliki peluang yang tak kalah besarnya. Pengembangan baik desa wisata, desa kreatif, maupun daya tarik wisata di Kabupaten Badung harus mulai membuka sudut pandang baru dan berhenti hanya berorientasi pada wisatawan mancanegara. Kembali lagi seperti contoh sebelumnya yakni pasar malam ayunan di Desa Wisata Munggu. Meskipun pengunjungnya didominasi oleh masyarakat lokal, namun nyatanya dapat menggerakkan perekonomian di Desa Wisata Munggu. Oleh sebab itulah, kini target pemasaran pariwisata harus mulai dirubah. Strategi pemasaran dan penjualan harus dibuat agar wisatawan lokal juga tertarik untuk berkunjung ke Bali khususnya berwisata di Kabupaten Badung.

Setelah pengembangan dan pengelolaan di masing-masing desa wisata, desa kreatif, dan daya tarik wisata optimal, maka dibutuhkan adanya kolaborasi sebagai bentuk sinergitas untuk mempercepat pemulihan pariwisata di Kabupaten Badung. Kolaborasi antara masyarakat lokal, stakeholder, dan pemerintah sangat dibutuhkan, karena sangat penting untuk menyatukan visi misi dalam upaya pemulihan pariwisata ini. Terlebih lagi pariwisata disebut sebagai sektor yang bersifat multisektoral, dimana pariwisata akan selalu membutuhkan sektor lain dalam pembangunan dan pengembangannya. Disamping penyatuan, kolaborasi ini juga akan sangat berguna dalam lahirnya sebuah inovasi yang dapat dimanfaatkan dalam upaya pemulihan pariwisata di Kabupaten Badung. Jadi, tidak ada yang lebih baik daripada mengerjakan hal secara bersama-sama, karena seperti kata pepatah “ Alone we can do so little, together we can do so much!”.

 

Kreator: Ni Ketut Asthi Dewanti Triandani

Kategori: Pariwisata Bali, Destinasi Wisata