Satu Desa Wisata Mengikat Indera Yang Berbeda

Oleh Admin JBB
6 Mei 2023

Pandemi covid-19 sangat memberikan dampak yang signifikan bagi banyak sektor, salah satunya sektor pariwisata. Hal ini mengakibatkan permintaan perjalanan wisata baik wisatawan domestik dan mancanegara merosot tajam. Data yang dikutip oleh kemenparekraf mencatat bahwa di sepanjang tahun 2020 jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke indonesia hanya sekitar 4,052 juta orang, jika dikonversikan dalam persen hanya sekitar 25% dari jumlah wisatawan yang masuk ke Indonesia pada tahun 2019. Masalah ini pun berimbas kepada pendapatan negara di sektor pariwisata. Karena pembatasan sosial berskala besar dan akses keluar-masuk Indonesia yang diperketat, sehingga menyebabkan penurunan pendapatan negara di sektor pariwisata sebesar Rp 20,7 Miliar. Selain pada pendapatan negara pandemi Covid-19 juga memberikan dampak pada pengurangan jam kerja bagi para karyawan dan berdampak secara langsung kepada lapangan pekerjaan di sektor pariwisata. Maka dari itu penting adanya kerjasama dan sinergitas seluruh sektor untuk dapat menyelamatkan pariwisata di Indonesia. Upaya yang dilakukan untuk menyelamatkan pariwisata indonesia dalam memerangi pademi covid-19 yakni melalui 3 fase : Fase Tanggap Darurat, Fase Pemulihan dan Fase Normalisasi. Fase Tanggap Darurat merupakan fase yang lebih berfokus kepada kesehatan, karena pademi covid-19 merupakan virus yang menginfeksi sistem kekebalan tubuh manusia. Maka fokus utama untuk menyelesaikan kasus ini adalah masalah kesehatannya, seperti menekan kegiatan di luar ruangan dan memberlakukan WFH (work from home) namun tetap mendorong dan mendukung produktivitas WFH melakukan rekonsiliasi krisis pariwisata dengan daerah pariwisata, serta melakukan pemulihan. Fase pemulihan merupakan fase pembukaan secara bertahap tempat pariwisata di Indonesia, seperti penerapan protokol CHSE (Cleanliness, Healthy, Safety, and Environmental, Sustainability) di tempat wisata, serta mendukung kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) di Indonesia. Dan terakhir, Fase Normalisasi merupakan fase yang lebih berfokus kepada meningkatkan minat pasar dalam kunjungan wisata, seperti pembuatan paket – paket wisata dan melaksanakan program – program pariwisata agar dapat menggaet minat pasar seperti virtual travel fair yang dilaksanakan sejak bulan Agustus-september 2020. Dengan mulai menerapkan Protokol CHSE di lingkup pariwisata. Melihat fase- fase yang dicanangkan oleh pemerintah dalam pemulihan pariwisata tentunya sinergitas daripada daya tarik wisata juga perlu diperhatikan. Pariwisata di Indonesia khususnya di Bali memang sangat perlu adanya campur tangan pemerintah dan masyarakat agar pariwisata di provinsi Bali yang sangat terkenal di mana negara ini mampu kembali eksis. Salah satunya Kabupaten Badung yang ada di Provinsi Bali. Laksana sebuah keris, sektor pariwisata di Kabupaten badung menyebar dari utara ke selatan. Dengan berbagai daya tarik wisata yang ditawarkan. Seperti Desa Wisata dan Desa kreatif. Artikel ini akan membahas tentang Sinergitas Desa Wisata munggu melalui pengalam panca indra bagi para wisatawan dalam membantu pemulihan pariwisata di Kabupaten Badung. Desa wisata merupakan salah satu jenis pariwisata yang menyatu dengan tradisi dan tata cara kehidupan masyarakat dan berkaitan antara integrasi, atraksi dan akomodasi serta didukung oleh fasilitas pendukung. Setiap desa wisata tentunya memiliki suatu ciri yang khas sehingga memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Yang dikemas dalam bentuk budaya, tradisi yang alami. (Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 2011:1). Desa wisata munggu merupakan salah satu desa wisata yang terletak di kecamatan mengwi kabupaten badung. Sesuai dengan surat edaran Kadisprada Provinsi Bali Nomor 556/317/I/DISPAR tentang pengembangan 100 desa wisata 2014-2018, dan peraturan Bupati Badung Nomor 47 tahun 2010 tentang penetapan kawasan desa wisata di Kabupaten Badung. Kabupaten Badung memiliki 11 desa wisata yang tersebar di Badung utara dan Badung Tengah. Salah satunya Desa wisata munggu yang terletak di Badung tengah. Desa wisata munggu terdiri dari 13 banjar dinas, 3 desa Adat, 17 banjar adat dan 2 lembaga pesubakan memiliki penduduk sekitar 6.597 jiwa. Sejah tahun 2010 Desa munggu telah ditetapkan sebagai desa wisata. Yang lebih berfokus kepada daya tarik keeksotisan budaya dan keindahan alam dengan memiliki lokasi yang strategis karena memiliki daya tarik wisata yang berfokus kepada nilai tradisi, budaya lokal dan kearifan lokal. Selain itu, desa wisata ini juga mendukung adanya sport tourism, wellness tourism, and education tourism. Melihat hal tersebut dapat disimpulkan bahwa desa wisata munggu dapat menjawab pertanyaan dari Something to see, something to do, something to buy and something to learn. Selain pengalaman yang ditawarkan di desa wisata munggu. Desa ini juga memberikan pengalaman yang seutuhnya bagi para wisatawan yang melibatkan panca indera. Karena dengan adanya peran panca indera maka akan membentuk pengalaman ruang dan pembentukan perspektif terhadap suatu lingkungan. Melalui Panca Indra yang terdiri dari penglihatan(mata), pendengaran (telinga), peraba (kulit), penciuman (hidung) dan perasa (lidah). Dapat menghasilkan suatu informasi yang diterima oleh orang (wisatawan) jika berkunjung ke salah satu destinasi pariwisata yakni Desa Munggu. James J. Gibson, seorang psikologis, mendeskripsikan lima sistem sensori sebagai suatu mekanisme yang substansial dalam mencari informasi (Malnar Vodvarka, 2004). Artinya indra secara spontan mendapat informasi yang kemudian diolah oleh otak sehingga melalui indra tersebut orang dapat memberikan perspektif dan mendefinisikan pengalaman pariwisata yang didapatkannya. Di Desa Wisata Munggu memiliki daya tarik wisata yang melibatkan lima panca indera sehingga lebih menarik dan memberikan nilai tambah bagi para wisatawan. Tidak cukup hanya mengolah keindahan alam dan tradisi nya namun ada kreativitas untuk mengolah destinasi pariwisata tersebut sehingga memberikan pengalaman bagi para wisatawan dan juga berdaya saing. Panca Indera yang berperan dalam menarik daya tarik wisata di Desa Wisata Munggu yakni :

1. Peng-lihatan (Mata). Mata sebagai indera penglihatan merupakan suatu indera yang digunakan untuk dapat mempresentasikan dan mengamati objek yang sedang dilihat. Kaitannya dengan pariwisata adalah. Para wisatawan akan datang ke salah satu desa wisata karena daerah wisata tersebut memiliki hal yang menarik atau memiliki suatu objek yang dapat memanjakan mata wisatawan. Di Desa Wisata Munggu menghadirkan panorama yang tidak kalah cantiknya, desa ini dikelilingi oleh hamparan sawah yang luas sehingga sangat tepat bagi para wisatawan untuk dapat memanjakan matanya untuk melihat hamparan sawah ini selain itu di Desa Pariwisata Munggu memiliki pantai yang indah yang dapat dikunjungi oleh para wisatawan untuk sekadar melihat matahari terbit atau terbenam di Desa Wisata Munggu

2. Pendengaran (Telinga). Telinga sebagai indera pendengaran merupakan suatu indera yang digunkan untuk mengetahui berbagai macam getaran bunyi. Kaitannya dengan pariwisata adalah. Para wisatawan akan dapat mendengarkan bunyi – bunyi khas yang menjadi daya tarik di salah satu destinasi pariwisata tersebut. Di Desa Wisata Munggu setiap 210 hari atau setiap 6 bulan sekali akan melaksanakan suatu tradisi yang diturunkan secara turun temurun yakni tradisi mekotek. Mekotek berasal dari kata tek tek yang merupakan bunyi bambu yang beradu satu sama lain sehingga menimbulkan bunyi tek-tek. Sehingga para wisatawan yang datang ke Desa Wisata ini dan bersamaan dengan diadakannya tradisi ini maka para wisatawan akan mendapatkan pengalam pendengaran yang tak terlupakan dari tradisi mekotek ini. Tradisi ini memiliki makna sebgai simbol kemenangan dan untuk menolak bala

3. Penciuman (Hidung). Hidung sebagai indera penciuman merupakan suatu indera yang digunakan untuk mengetahui berbagai macam bau dan menyaring udara. Kaitannya dengan pariwisata adalah. Para wisatawan dapat memiliki kesan tersendiri dengan aroma yang menjadi ciri khas dari destinasi pariwisata tersebut. Salah Satu nya di Desa Wisata Munggu ada penjual Sate Babi yang terkenal yang cukup menjadi ikon dari Desa Munggu. Yakni Sate Babi beten pon bingin atau sate babi pak Yan Bun. Sate babi ini sudah berjualan hampir 35 tahun. Yang menjadi ciri khas dari sate babi ini selain bumbunya yang otentik namun tempat nya berjualan. Sate Babi ini berjualan di dekat Perempatan jalan Desa Munggu di dekat lampu Merah. Apabila para wisatawan sedang menunggu pergantian lampu merah ke hijau, maka selama itu juga para wisatawan akan disuguhkan aroma dari nikmatnya sate babi pak Yan Bun. Pelanggan sate babi Pak Yan Bun berasal dari berbagai kalangan mulai dari warga Bali hingga warga luar Bali. Bahkan ada tamu dari Kanada china dan Belanda yang memesan ribuan tusuk sate untuk acara pesta hingga memesan sebanyak 5.000 tusuk sate. Ujarnya dalam wawancara beritabali.com

4. Sentuhan (Kulit) Kulit sebagai indera peraba yang digunakan untuk merasakan berbagai hal seperti suhu yang ada di luar panas atau dingin, karena kulit merupakan bagian terluar yang ada pada tubuh manusia. Selain itu kulit juga bisa digunakan sebagai pelindung tubuh manusia dari berbagai macam gangguan. Kaitannya dengan pariwisata adalah, para wisatawan dapat memiliki kesan tersendiri dengan sentuhan ini yang menjadi ciri khas dari destinasi pariwisata tersebut. Salah satunya nya di Desa Wisata Munggu, yang menyedikan wellness tourism yakni terapi pasir hitam yang ada di pantai seseh munggu. Pantai seseh yang ada di munggu memiliki ciri khas pasir yang berwarna hitam.

Hal ini disebabkan karena penyusun dari pasir itu bisa berupa zat atau partikel. Yang berasal dari pelapukan batuan sekitar pantai yang dihasilkan dari letusan gunung berapi. Manfaat pasir pantai hitam sangat baik bagi kesehatan karena, kandungan di dalam pasir hitam yakni mineral dan zat yodium dipercaya baik dalam menyembuhkan penyakit.Terapi dengan menanam badan atau kaki menggunakan pasir memberikan efek relaksasi pada otot, pinggang, leher, dan juga dapat menghilangkan ketegangan otot tubuh dan juga baik dalam melancarkan peredaran darah sehingga badan mencari rileks dan segar kembali. Sehingga para wisatawan yang berkunjung ke desa wisata munggu tidak hanya menikmati tradisi, budaya, alam dan kulinernya melainkan ada daya tarik wisata wellness tourism yang bisa ditemukan di desa wisata munggu. Yakni, wisata pasir hitam. Sembari menanamkan kaki atau badan di pasir ini yang baik bagi kesehatan, para wisatawan juga dapat menikmati sunset dan deburan ombak yang cantik di pantai ini.

 

5. Rasa (Lidah) Lidah sebagai indera pengecap yang digunakan untuk dapat merasakan makanan dan membantu saat berkomunikasi. Kaitannya dengan pariwisata adalah, para wisatawan dapat memiliki kesan tersendiri dengan indera pengecap ini melalui lidah. Melalui rasa yang berkaitan dengan makanan maka pariwisata akan memiliki kenangan tersendiri terhadap sesuatu destinasi pariwisata tersebut. Salah satu contohnya yakni di Desa Wisata Munggu, yang tidak hanya menawarkan daya tarik wisata berupa budaya, adat, tradisi dan wisata wellness tourism melainkan memiliki daya tarik wisata berupa kuliner tradisional bali yang cukup terkenal yakni babi guling jero kawan. Dengan kekayaan rasa yang berasal dari bumbu genep khas bali, menjadikan babi guling memiliki cita rasa yang sangat kuat. Sehingga para pengunjung yang non-muslim dapat menikmati makanan ini dan memasukkannya ke dalam list tempat wisata kuliner yang mereka kunjungi ketika berlibur ke Bali. Dengan 25.000 untuk satu porsi, para wisatawan sudah dapat menikmati makanan khas Bali ini dan tentunya ini akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi para wisatawan ketika mencicipi makanan ini. Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Sinergitas dari salah satu desa wisata yang ada di Kabupaten Badung yakni Desa Wisata Munggu dalam pemulihan pariwisata di Kabupaten Badung sangat penting, karna bawasanya Desa Wisata Munggu dapat memberikan kenangan bagi para wisatawan melalui pengalaman panca indera. Karena melalui kesan panca indera maka para wisatawan akan dapat merepresentasikan dan memvisualkan tempat wisata yang mereka kunjungi melalui ruang dan waktu, hal ini sangat penting untuk dapat disadari oleh berbagai macam pihak seperti akademisi, bisnis, pemerintah, masyarakat lokal, dan media yang nantinya akan membangun sebuah sinergitas dalam pengembangan potensi Desa Wisata Munggu dengan mewujudkan satu tujuan yang sama yakni pemulihan pariwisata di Provinsi Bali pada umumnya dan Kabupaten Badung pada khususnya.

 

Oleh: Ni Putu Sintya Puspita Sari

Kategori: Pariwisata Bali